Saturday, December 19, 2015

puisi mengabaikan cibiran orang

Perlu diingat, orang yang duduk di atas tanah tak akan pernah jatuh, dan manusia tidak akan pernah menendang anjing yang sudah mati. Adapun mereka, marah dan kesal kepada Anda adalah karena mungkin Anda mengungguli mereka dalam hal kebaikan, keilmuan, tindak tanduk, atau harta. Jelasnya, Anda di mata mereka adalah orang berdosa yang tak terampuni sampai Anda melepaskan semua karunia dan nikmat Allah yang pada diri Anda, atau sampai Anda meninggalkan semua sifat terpuji dan nilai-nilai luhur yang selama ini Anda pegang teguh. Dan menjadi orang yang bodoh, pandir dan tolol adalah yang mereka inginkan dari diri Anda.
Oleh sebab itu, waspadalah terhadap apa yang mereka katakan. Kuatkan jiwa untuk mendengar kritikan, cemoohan dan hinaan mereka. Bersikaplah laksana batu cadas; tetap kokoh berdiri meski diterpa butiran-butiran salju yang menderanya setiap saat, dan ia justru semakin kokoh karenanya. Artinya, jika Anda merasa terusik dan terpengaruh oleh kritikan atau cemoohan mereka, berarti Anda telah meluluskan keinginan mereka untuk mengotori dan mencemarkan kehidupan Anda. Padahal, yang terbaik adalah menjawab atau merespon kritikan mereka dengan menunjukkan akhlak yang baik. Acuhkan saja mereka, dan jangan pernah merasa tertekan oleh setiap upadaya mereka untuk menjatuhkan Anda. Sebab, kritikan mereka yang menyakitkan itu pada hakekatnya merupakan ungkapan penghormatan untuk Anda. Yakni, semakin tinggi derajat dan posisi yang Anda duduki, maka akan semakin pedas pula kritikan itu.



nah anda penasaran dengan puisi mengenai hal tsbt? simak baik baik


asa terakhir
lonceng lonceng berdenting
menambah keindahan sang  bintang
dan dedaunan pun berbaring
bertemankan hembusan nafas malam panjang
sebagian yang kering memikul cibir
dari dahan dahan yang menantang

tersentyumlah!!!
meski kebahagiaan tiada lain
meski tatapan mata ini bagaikan lilin
sementara itu aku takkan pernah berpaling
tetap kunyanyikan dengan nyaring 
lagu lagu ilahi yang menyayat hati
karena kutau takkau biarkan aku sendiri


damai hati ini mendesah dalam gerimis
seperti coretan garis garis
terbanting aku dalam hidup miris
garis garis yang tetap mengiris
hingga aku tenggelam tak menyelam

bayangkan!!!
akh biarlah aku 
biarlah ku hias sendiri jalan ini
biarlah kuhias sendiri hidup ini
dengan bayang bayang emas
dengan trifi trofi prestasi
bak tinta yang mengalir ini
kupacu jiwa ragaku menatap indahnya dunia 
dengan segenap rindu dendam genggaman asa



sekian dulu puisinya thanks sudah mampir...

No comments:

Post a Comment